Ajaran Nietzsche

ANTARA NIETZSCHE DAN NENEKKU

“Tuhan telah mati, manusia telah membunuh Tuhan dengan pisau-pisaunya, maka perayaan apa lagi yang harus dilakukan untuk merayakan kematian Tuhan. Perayaan kudus macam apa yang harus dilakukan untuk membersihkan darah Tuhan.”

(Nietzsche dalam pesan Zaratustra)

“ Dunia ini apa benarlah, kepada Nya jualah kita akan berpulang, perteguhlah iman dan rajinlah beribadah kepada Nya, sebab di tangan Nya lah kehidupan ini diatur.” (Nenekku, dalam sebuah nasehat)

Nietzsche adalah anaknya Darwin, itulah jawaban ringkas jika ada pertanyaan siapa itu Nietzsche? Nietzsche dibesarkan oleh keluarga yang berlatar belakang pendeta. Ia juga sempat akan dilantik menjadi seorang pendeta. Ajaran Nietzsche sama dengan ajaran Darwin yang menerangkan bahwa yang kuatlah yang akan bertahan hidup. Untuk itulah Nietzsche menginginkan adanya kehendak berkuasa  pada manusia.

Nietzsche adalah seorang filosof aksi yang meneriakkan kehendak berkuasa oleh manusia tanpa adanya intervensi agama (Tuhan). Ia menolak adanya Tuhan di dunia ini. Menurut Nietzsche, Tuhan telah membuat manusia menjadi lemah untuk berkuasa. Manusia akan susah bertindak karena selalu mempertimbangkan apakah sesuai dengan perintah Tuhan. Menurutnya, moralitas seperti apa yang diajarkan oleh agama hanya membuat manusia semakin lemah dan tidak bisa maju untuk menjadi manusia unggul.

Dalam hal perjuangan untuk tetap hidup, maka moral atau moralitas tidak memperoleh tempat. Manusia segera melihat bahwa sepanjang sejarah kemanusiaan, perjuangan untuk hidup memerlukan kekuatan, bukannya kebaikan atau kebajikan, bukan rasa rendah diri melainkan keangkuhan, bukan altruisme, melainkan kecerdikan. Moral (yang di dalam kehidupan Nietzsche adalah moralitas Kristen) adalah berhala yang melemahkan manusia sehingga harus di berantas.

Nietzsche menggambarkan seorang manusia super (Ubensmasch) yang akan menggantikan Tuhan di muka bumi. Hal ini digambarkan oleh Nietzsche dalam sejarah Jerman yang berhasil menjadi Negara yang kuat.

Nietzsche juga membanggakan bahwa manusia dan otaknya adalah segala-galanya. Nietzsche termasuk tokoh yang beraliran antroposentrisme, dimana menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran, bukan Tuhan (theosentrisme).

Nietzsche meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya, salah satunya penyakit syphilis.

Berbeda dengan Nietzsche, nenekku dilahirkan dari keluarga petani. Nenekku adalah seorang yang beragama, bukan atheis, layaknya Nietzsche. Jujur, nenekku beragama hanya karena orang tuanya beragama. Dalam sosialisasi keluarga, nenekku diajarkan untuk beribadah kepada Tuhan.

Demi waktu yang terus berjalan, beribadah bukan lagi merupakan suatu kewajiban, melainkan suatu kebutuhan rohani bagi nenekku. Ia tidak akan tenang jika belum “menghadap” Tuhan. Hatinya akan merasa tentram jika sudah menghadap Tuhan. Nenenkku tidak mempunyai pendidikan yang tinggi, namun naluri (rasio, nalar, instingnya) menerangkan bahwa ada suatu yang Maha Menguasai dari semua materi yang ada di dunia ini. Nenekku percaya akan takdir sebagai suatu kehendak dari Tuhannya. Namun itu, tidak menghambat aktivitasnya. Buktinya, dalam umur yang sudah tua, ia masih meneyempatkan diri, turun ke sawah menanam padi untuk kepentingan lambungnya yang harus terus diisi. Selain itu ia juga memeberikan sedikit dari apa yang dia punya untuk tetangga ungkapan rasa saling memberi sebagai sesame umat Sang Pemilik kehidupan fana.

Pada suatu subuh, Nenekku pergi menuju pemandian umum. Di sana ia bersuci untuk segera mengahadap Tuhannya. Setelah menghadap Tuhan, ia tertidur dan tidak bangun lagi untuk selamanya. Ia berpulang kepada Tuhannya, sebagai bukti ia tidak berkuasa atas dirinya sendiri, melainkan hanya Tuhan Nya lah yang berkuasa terhadap dirinya dan segala-galanya.

Pembaca yang arif, hidup penuh dengan misteri. Latar belakang yang berbeda setiap anak manusia menghasilkan cara yang berbeda pula dalam menjawab misteri kehidupan. Masing-masing anak zaman dalam tiap-tiap zamannya mencoba menjawab akan makna kehidupan. Diantaranya adalah Nietzsche dan nenekku. Mereka berdua hanyalah beberapa diantara anak zaman yang mencoba menjalankan hidup dengan cara mereka masing-masing. Kepada anda semua berpulang. Penyelesaian seperti apa yang anda inginkan, apakan Nietzsche, atau nenekku, ataupun anda punya cara sendiri. Terserah anda!

Penulis             : iyasu_kaisar@yahoo.com

Domisili           : Dunia Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: